Wednesday, November 15, 2006

Terapi gen mampu atasi HIV

INFEKSI HIV ternyata dapat diobati dengan menggunakan virus HIV yang telah dilumpuhkan. Ini hasil pengujian tahap awal.

Dalam pengujian itu, para ahli dari Pennsylvania University mengobati lima pasien, yang selama ini tidak bereaksi terhadap berbagai macam obat, dengan menggunakan HIV yang cacat atau telah dimodifikasi.

Virus cacat itu mengandung tambahan materi genetik yang mampu memblokir reproduksi HIV. Akibatnya, kadar HIV dalam darah pasien menjadi stabil atau menurun.

Pengujian awal ini menunjukkan prospek cerah akan terapi gen sebagai pilihan lain dari berbagai macam obat antiretrovirus. Selama ini, penggunaan obat dalam jangka panjang justru bisa membuat virus AIDS semakin kebal.

Sementara itu terapi gen cenderung kompleks dan membutuhkan strategi yang sangat berbeda untuk terapi HIV.

"Selama ini terapi gen dibahas sebagai terapi alternatif untuk HIV. Tujuan pengujian ini adalah melihat tingkat keamanan dan kemungkinan serta melihat hasilnya, "ujar peneliti Dr Carl June.

Dalam pengujian itu, para pasien yang diseleksi adalah mereka yang selama ini tak menunjukkan reaksi untuk sekurangnya dua jenis obat antiretrovirus.

Mereka diberikan suntikan sel-sel T dari sistem kekebalan tubuh itu sendiri yang diambil dari dalam darah. Sel-sel T itu telah dimurnikan dan secara genetik dimodifikasi untuk membawa virus HIV yang telah dimanipulasi.

Setiap pasien mendapatkan sekitar 10 miliar sel T yaitu antara dua hingga sepuluh persen dari jumlah sel secara keseluruhan pada rata-rata manusia.

Gen pada HIV yang telah dimanipulasi ini telah dimodifikasi untuk membawa molekul RNA antiperasa yang mampu mengaduk proses informasi pembacaan genetika. Molekul RNA antiperasa itu dirancang untuk menyabotase proses HIV dalam mereproduksi diri di dalam sel-sel yang telah terinfeksi.

Muatan virus HIV dalam tubuh pasien cenderung stabil atau bahkan menurun selama uji coba yang berlangsung sembilan bulan. Bahkan seorang pasien menunjukkan penurunan drastis muatan HIV dalam tubuhnya.

Kandungan sel-sel T berada dalam kadar tetap atau naik pada empat dari lima pasien.

Peneliti dapat mendeteksi sel-sel HIV yang telah dimodifikasi dalam tubuh pasien selama berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun setelah suntikan pertama.

Namun begitu, uji coba ini masih dalam skala kecil. Lagi pula, kondisi pasien yang menjadi objek percobaan harus dipantau selama 15 tahun untuk melihat berbagai pengaruhnya dalam jangka panjang.

Menurut Dr George Schmid, spesialis HIV di Organisasi Kesehatan Dunia WHO, butuh waktu bertahun-tahun untuk menentukan apakah teknik ini aman dan efektif. Sekalipun hasilnya untuk saat ini tergolong bagus.

"Terapi gen merupakan hal yang kompleks dan butuh strategi yang sangat berbeda untuk pengobatan HIV," jelas Roger Pebody dari yayasan Terrence Higgins Trust.

Sayangnya, terapi gen merupakan pengobatan yang mahal dan butuh banyak tenaga manusia dan tidak bisa digunakan untuk mayoritas pengidap HIV atau AIDS yang tinggal di negara berkembang.

Para ahli juga yakin penggunaan virus seperti HIV, yaitu lentivirus, mungkin juga efektif dalam terapi gen. Lentivirus terutama efektif pada sel-sel T yang terinfeksi. Virus ini juga menyerang sel-sel tubuh yang sedang membelah diri secara perlahan atau sel-sel yang tidak membelah diri. Ini berarti lentivirus bisa juga dipakai untuk menargetkan sel-sel syaraf atau sel-sel tunas.

Lentivirus juga mampu menyusup ke dalam DNA dari sel-sel dalam cara yang membuat virus ini lebih aman dan dapat memproduksi efeknya untuk jangka panjang daripada virus terapi gen lain seperti adenovirus.

Saat ini para ahli sedang mencoba uji coba yang kedua untuk terapi virus yang disebut VRX496. Kali ini, pengujian dilakukan terhadap pasien yang muatan HIV-nya sudah terkendali dengan sangat baik karena menggunakan obat-obat yang ada.
harian terbit

No comments: